SIDOARJO — Kebonsari Online, Musyawarah Ranting (MUSRAN) Nahdlatul Ulama (NU) Kebonsari Masa Khidmat 2026–2031 berlangsung khidmat dan demokratis di Masjid Al Mubarak, Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Ahad (9/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB tersebut dihadiri peserta penuh dari Pengurus Ranting NU Kebonsari, serta peserta peninjau dari berbagai Badan Otonom NU, antara lain Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa dan ISHARI.

Hadir pula tamu undangan dari MWCNU Candi, Kepala Desa Kebonsari, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta sejumlah undangan lainnya.
Rangkaian acara dipandu oleh Ustadz Muhammad Zakariyah selaku pembawa acara.
Rais Syuriyah: Harapan Kepengurusan Baru Semakin Maju
MUSRAN diawali dengan pembukaan atau iftitah oleh Rais Syuriyah Ranting NU Kebonsari, H. Sukamto Ahmad Rofi’i.
Dalam iftitahnya, ia berharap seluruh rangkaian MUSRAN dapat berjalan lancar dan menghasilkan kepengurusan baru yang mampu membawa NU Kebonsari semakin maju dan berkembang.
“Kami berharap Musran ini berjalan dengan lancar dan sukses memilih pemimpin baru untuk Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah. Dengan harapan, semoga dengan kepengurusan yang baru nantinya bisa membawa Ranting NU Kebonsari tambah maju dan berkembang, banyak memberikan manfaat maslahat bagi umat, jamaah dan jam’iyah Nahdlatul Ulama.”
Setelah pembukaan, peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Subbanul Wathan. Lagu dipandu oleh seorang dirigen dari kader Fatayat Ranting NU Kebonsari.
Ketua Panitia: MUSRAN Harus Menjadi Momentum Menjaga Tradisi Baik
Ketua Panitia MUSRAN NU Kebonsari, H. Nur Salim, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus terima kasih kepada seluruh peserta dan undangan yang telah hadir serta memberikan dukungan terhadap pelaksanaan MUSRAN.
“Atas nama pribadi dan seluruh jajaran Panitia Musyawarah Ranting NU Kebonsari, kami menyampaikan selamat datang dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta yang telah berkenan hadir dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan MUSRAN ini,” ujarnya yang juga merangkap Ketua LAZISNU Ranting Kebonsari.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, baik Steering Committee (SC) maupun Organizing Committee (OC), yang telah bekerja maksimal mempersiapkan pelaksanaan MUSRAN.
Menurut H. Nur Salim, Ranting NU Kebonsari memiliki tanggung jawab moral untuk mempertahankan tradisi organisasi yang baik. Hal tersebut tidak terlepas dari prestasi Ranting NU Kebonsari yang pernah meraih Juara 1 PWNU Jatim Award Tahun 2018 kategori Ranting NU Terbaik.
“Kebonsari merupakan Juara 1 PWNU Jatim Award Tahun 2018 kategori Ranting NU Terbaik. Karena itu, Ranting NU Kebonsari punya tanggung jawab moral mengemban amanah dan khidmah untuk memberikan suri teladan, contoh yang baik kepada ranting-ranting NU yang ada di wilayah MWCNU Candi, PCNU Sidoarjo bahkan di luar Sidoarjo, hasil Musran ini nanti akan kita laporkan ke MWCNU Candi dan PCNU Sidoarjo” ungkapnya.
H. Nur Salim menjelaskan bahwa panitia MUSRAN telah menyiapkan administrasi dan perangkat persidangan secara rinci. Di antaranya buku panduan yang memuat jadwal acara, naskah tata tertib, pengesahan pimpinan sidang, tata tertib MUSRAN, Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Ranting NU, mekanisme tanggapan dan pengesahan LPJ, berita acara, surat keputusan pengesahan LPJ, tata tertib dan tata cara penetapan serta kerja Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA), berita acara musyawarah AHWA, hingga mekanisme pengajuan bakal calon Ketua Tanfidziyah.
Panitia juga telah membuka pendaftaran bakal calon Ketua Tanfidziyah Ranting NU Kebonsari dengan sejumlah persyaratan, antara lain berakidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, memiliki Kartu Tanda Anggota NU (KARTANU), memiliki KTP Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, serta memiliki sertifikat Pelatihan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU).
H. Nur Salim yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris MWCNU Candi tersebut kemudian menutup sambutannya dengan pantun:
“Ke Kebonsari beli telur asin, singgah sebentar di kampung bebek.
Selamat datang kepada semua hadirin, mohon maaf jika fasilitas kami banyak yang pendek.”
Ia melanjutkan:
“Bebek Kebonsari berbaris dengan rapi, menetas satu membawa kebahagiaan.
Semoga MUSRAN ini sukses dan diberkahi, membawa maslahat untuk umat dan NU sekalian.”
Ketua Tanfidziyah Sampaikan LPJ Masa Khidmat 2021–2026
Selanjutnya, Ketua Tanfidziyah Ranting NU Kebonsari Masa Khidmat 2021–2026, Ustadz Ahmad Munir, menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban kepengurusan.
Ia menyampaikan rasa syukur karena Pengurus Ranting NU Kebonsari Masa Khidmat 2021–2026 dapat menunaikan amanah organisasi hingga berakhirnya masa khidmat.
“Laporan Pertanggungjawaban ini disusun sebagai bentuk akuntabilitas Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Kebonsari kepada forum Musyawarah Ranting (MUSRAN), sekaligus sebagai bahan evaluasi dan pijakan bagi kepengurusan berikutnya dalam melanjutkan perjuangan Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” jelasnya.
Ia juga mengakui bahwa selama masa khidmat masih terdapat berbagai kekurangan.
“Kami menyadari bahwa selama masa khidmat masih terdapat berbagai kekurangan. Oleh karena itu, kritik, saran, dan masukan dari seluruh peserta Musyawarah Ranting sangat kami harapkan demi kemajuan organisasi,” katanya.
MWCNU Candi Apresiasi Tertib Administrasi NU Kebonsari
Ketua MWCNU Candi, H. Arwani Muslich, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan MUSRAN NU Kebonsari.
Menurutnya, Ranting NU Kebonsari merupakan salah satu ranting yang memiliki administrasi tertib dan aktif dalam mendukung kegiatan MWCNU Candi.
“Ranting NU Kebonsari sangat tertib administrasinya. Sebagai contoh, pelaksanaan MUSRAN ini diadakan satu bulan sebelum berakhirnya masa khidmat Pengurus Ranting pada September 2026,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa NU Kebonsari merupakan salah satu ranting yang sangat aktif di lingkungan MWCNU Candi. Pengurus dan warga NU Kebonsari dinilai konsisten memberikan dukungan serta menghadiri berbagai kegiatan yang diselenggarakan MWCNU Candi maupun lembaga dan Badan Otonom NU.
H. Arwani menegaskan bahwa MUSRAN bukan sekadar rutinitas lima tahunan.
“MUSRAN ini bukan sekadar kegiatan rutinitas saja yang dilakukan lima tahun sekali. Perlu dicatat bahwa MUSRAN ini merupakan majelis yang sangat luar biasa karena nanti ada forum musyawarah untuk memilih anggota AHWA untuk memilih Rais Syuriyah, dan juga forum akan memilih Ketua Tanfidziyah,” ujarnya.
Ia berharap kepengurusan yang terbentuk nantinya mampu menyusun program kerja yang aplikatif, inovatif dan responsif.
“Artinya, program kerja yang bisa dilaksanakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama warga NU Kebonsari,” katanya.
H. Arwani juga mengapresiasi konsistensi NU Kebonsari yang pernah meraih Juara 1 PWNU Jatim Award Tahun 2018.
Menurutnya, prestasi tersebut menjadi bagian dari “virus baik” atau uswah yang dapat ditularkan kepada MWCNU Candi dan ranting-ranting NU lainnya.
Salah satu contoh yang ia soroti adalah pelaksanaan MUSRAN yang dipersiapkan secara sistematis, mulai dari pembentukan panitia, rapat kerja panitia, penyusunan buku panduan MUSRAN, tata tertib pemilihan, berita acara pemilihan hingga penyusunan LPJ.
“LPJ Ranting NU Kebonsari sangat tebal sekali karena di dalamnya terdapat laporan kegiatan dan keuangan Ranting NU dan lembaga-lembaganya,” ungkapnya.
H. Arwani kemudian mengingatkan seluruh peserta bahwa MUSRAN bukan hanya tentang pergantian kepengurusan.
“MUSRAN ini bukan sekadar memilih pengurus baru. Ini adalah momentum untuk menyambung perjuangan, memperkuat persaudaraan, dan menata langkah NU Kebonsari untuk lima tahun ke depan.”
Ia mengajak seluruh peserta menjalankan musyawarah dengan hati lapang dan menjaga ukhuwah.
“Perbedaan pilihan jangan sampai menjadi perpecahan. Perbedaan pendapat jangan sampai menghilangkan persaudaraan. Siapa pun yang terpilih nanti adalah bagian dari keluarga besar NU Kebonsari.”
Sambutan tersebut ditutup dengan pantun:
“Pergi ke Taman memetik melati, harumnya semerbak hingga sampai pagi.
Musyawarah Ranting Kebonsari kita jalani, perkuat ukhuwah teguhkan visi.”

Selanjutnya pernyataan demisioner pengurus lama Ranting NU Kebonsari Masa Khidmat 2021-2026 yang dipandu oleh Pimpinan Sidang.
Acara pembukaan Musran ditutup dengan doa oleh KH. Drs. Imam Sulthoni selaku Rais Syuriyah MWCNU Candi.
H. Sukamto Ahmad Rofi’i Terpilih sebagai Rais Syuriyah
Setelah rangkaian sambutan selesai, agenda dilanjutkan dengan persidangan MUSRAN yang dipimpin oleh Ustadz Achmad Aynuddin, Wakil Sekretaris MWCNU Candi, dibantu sekretaris sidang dan anggota pimpinan sidang.
Salah satu agenda utama adalah pemilihan lima anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA).
Dalam forum tersebut ditetapkan lima anggota AHWA, yaitu: H. Sukamto Ahmad Rofi’i, H. Sardjono, H. Agus Sunarto, Ustadz Ahmad Munir, Ustadz Abdul Wahab.
Selanjutnya, forum AHWA dipimpin oleh anggota yang paling tua yakni H. Ir. Sardjono, bermusyawarah dan sepakat menetapkan H. Sukamto Ahmad Rofi’i sebagai Rais Syuriyah Ranting NU Kebonsari Masa Khidmat 2026–2031.
Ahmad Munir Terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah
Agenda berikutnya adalah pemilihan Ketua Tanfidziyah Ranting NU Kebonsari Masa Khidmat 2026–2031.
Pada awalnya, forum diharapkan dapat mencapai keputusan melalui musyawarah mufakat. Namun, forum kemudian menghendaki adanya pengajuan beberapa nama calon untuk dipilih.
Tiga nama yang muncul dalam forum adalah Ahmad Munir, Abdul Wahab, dan Arif Bachtiyar.
Setelah dilakukan pemungutan suara atau voting, diperoleh hasil: Ahmad Munir: 10 suara, Arif Bachtiyar: 9 suara, Abdul Wahab: 3 suara.
Berdasarkan hasil tersebut, Ahmad Munir terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah Ranting NU Kebonsari Masa Khidmat 2026–2031.
Pemilihan berlangsung dalam suasana tertib dan demokratis, dengan tetap mengedepankan semangat persaudaraan dan kekeluargaan Nahdlatul Ulama.
Tim Formatur Dibentuk
Usai penetapan Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah, sidang dilanjutkan dengan pembentukan Tim Formatur.
Tim Formatur terdiri atas Rais Syuriyah terpilih, Ketua Tanfidziyah terpilih, serta anggota formatur dengan jumlah ganjil keterwakilan wilayah pedukuhan / dusun / RW.
Forum menetapkan lima anggota Tim Formatur, yakni: H. Sukamto Ahmad Rofi’i, Ahmad Munir, H. Agus Sunarto, Abdul Wahab, Arif Bachtiyar.
Tim Formatur tersebut diberikan tugas untuk menyusun dan membentuk struktur kepengurusan lengkap Ranting NU Kebonsari Masa Khidmat 2026–2031 dalam waktu paling lama satu bulan setelah pelaksanaan MUSRAN.
Dengan terbentuknya Tim Formatur, diharapkan proses penyusunan kepengurusan baru dapat berjalan secara proporsional, representatif, serta mampu mengakomodasi potensi kader NU Kebonsari.
MUSRAN Berakhir dengan Doa dan Semangat Khidmah
Menjelang berakhirnya persidangan, Ketua Sidang menutup rangkaian agenda dengan pantun:
“Ikan sepat ikan gabus tanpa ikan lele, semakin cepat semakin bagus tanpa bertele-tele.”
Seluruh rangkaian MUSRAN NU Kebonsari Masa Khidmat 2026–2031 kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Khoirul Sholeh, tokoh agama sekaligus Pengurus Syuriyah PCNU Sidoarjo.
MUSRAN NU Kebonsari 2026 menjadi momentum penting bagi keberlanjutan perjuangan Jam’iyah Nahdlatul Ulama di tingkat ranting. Dengan terpilihnya H. Sukamto Ahmad Rofi’i sebagai Rais Syuriyah dan Ahmad Munir sebagai Ketua Tanfidziyah, serta terbentuknya Tim Formatur, NU Kebonsari memasuki babak baru pengkhidmatan untuk lima tahun mendatang.
Semangat yang mengemuka dalam MUSRAN tersebut adalah menjaga tradisi baik, memperkuat ukhuwah, meningkatkan tertib organisasi, serta menghadirkan program-program yang nyata dan dirasakan manfaatnya oleh warga NU dan masyarakat Desa Kebonsari. (Nur Salim)




























